Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Daerah  

Dirgahayu Proklamasi NKRI ke-80: Guru bukan Beban Negara

Avatar photo
Dirgahayu Proklamasi NKRI ke-80: Guru bukan Beban Negara.
Dirgahayu Proklamasi NKRI ke-80: Guru bukan Beban Negara.
Oleh: Heronimus Bani
Pemulung Aksara

Kupang, KBC — Indonesia bersiap merayakan ulang tahun kemerdekaan ke-80. Bendera merah putih berkibar gagah, lagu-lagu perjuangan menggema, dan semangat persatuan membara.

Namun, di tengah gemuruh perayaan, ada satu suara sumbang nan miring yang mengusik: guru dan dosen dianggap sebagai beban negara.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Usaha Anda Tampil Disini? Hubungi Kami!!!

Ini bukan lelucon Hari Kemerdekaan, melainkan kenyataan pahit yang mencuat dari ruang sidang Mahkamah Konstitusi.

Baca Juga:  PLN UP3 Kupang Perkuat Layanan Awal 2026: Fokus Pemeliharaan kWh Meter

Bayangkan, para pahlawan tanpa tanda jasa, yang bertahun-tahun mengukir ilmu dan menanamkan budi pekerti, kini dihitung-hitung layaknya saldo minus dalam neraca keuangan negara.

Seolah-olah, kucuran dana untuk gaji dan tunjangan mereka adalah kerugian, bukan investasi emas untuk masa depan bangsa.

Mungkin para guru dan dosen selama ini salah. Mungkin proklamasi kemerdekaan yang dulu diperjuangkan mati-matian, kini harus diartikan ulang.

Proklamasi kemerdekaan yang sesungguhnya adalah ketika negara bisa bebas dari beban-beban tak penting seperti dana pendidikan.

Baca Juga:  Sejarah Baru di Penghujung 2025: Bupati Kupang Lantik Kakak Beradik dan Pasutri Alumni STPDN Jadi Camat

Mungkin seharusnya kurikulum diubah. Anak-anak tak perlu lagi belajar sejarah perjuangan, cukup belajar cara menghemat anggaran agar negara tidak terbebani.
Ironis, bukan?

Kita merayakan kemerdekaan, tapi di saat yang sama, kita justru membelenggu para pendidik dengan label “beban”. Kita membangun monumen megah, tapi lupa bahwa monumen terpenting adalah guru-guru berkualitas yang sejahtera.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KupangBerita.Com

+ Gabung


Powered By NusaCloudHost