Di sebuah ruangan beratapkan asa dan berdinding kilau keringat, berkumpullah para penabur cita, para penjaga api negeri, dan dua anak dari Selatan — Angelus dan Nono, yang datang membawa cahaya dari bukit dan lembah.
Dari Amarasi Selatan, tempat angin berbisik di balik Fatubraon yang bertulang batu, dan debur pantai Teres mengajari anak-anak mengeja keberanian.
Angelus Nitti dan Caesar Tnunay melangkah dengan sepatu penuh debu perjuangan, menuju podium di mana harapan diberi nama.
Angelus, sang pemecah teka-teki langit, menganyam angka-angka dalam Liga Matematika Nasional, hingga jatuhlah medali perak ke dadanya seperti bintang kecil yang mencium bumi.
Nono, si penjelajah digital dari SD Buraen 1, menari bersama kode-kode dan algoritma, dan ketika semua layar telah padam, tinggallah ia dengan medali perunggu yang berpendar dari jemari mungilnya.
Bupati Kupang berdiri, Yosef Lede, SH
mata awasnya menyimpan serpihan kenangan. Ia menunduk, mencium kening anak-anak itu, bukan sekadar penghormatan, tapi pemeteraian mimpi bangsa di daerah yang kadang terplesetkan
Saat hidungnya menyentuh hidung dan dahi kedua anak ini, tembok-tembok ruangan seperti tersenyum, angin di luar pun berhenti sejenak,
mendengar doa diam yang terucap dalam pelukan pemimpin dan murid.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KupangBerita.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.










