Kupang, KBC — Di tengah arus globalisasi budaya yang melaju deras tanpa henti, satu fenomena ditonjolkan kaum muda Indonesia.
Mereka berduyun-duyun memamerkan bendera Jolly Roger, simbol ikonik bajak laut dalam serial One Piece. Beragam respon di ruang publik baik pejabat negara, politisi, menteri, hingga akademisi.
Bendera hitam dengan lambang tengkorak dan dua tulang menyilang itu kini bertransformasi menjadi simbol keberanian, petualangan, dan kesetiaan pada sahabat, seperti digambarkan dalam serial animasi Jepang yang mendunia itu.
Tak sedikit pula yang menjadikannya sebagai lambang kebebasan melawan ketidakadilan. Namun, yang harus disadari: bendera itu adalah produk budaya luar — bukan warisan jiwa bangsa Indonesia.
Sementara itu, Sang Merah-Putih — lambang keberanian dan kesucian — terlihat mereka memasangnya di atas bendera one piece.
Ada semacam godaan budaya global yang pelan-pelan menggerus makna simbolik nasional kita.
Ini bukan tentang memusuhi budaya asing. Indonesia tidak anti terhadap budaya luar — justru kita bangsa yang terbuka dan bersahabat.
Namun, keterbukaan itu tak boleh membuat kita kehilangan jati diri. Nasionalisme bukan sekadar hafalan lagu “Indonesia Raya” atau ikut lomba Agustusan.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KupangBerita.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.










