Kupang, KBC — Pendidikan merupakan pilar fundamental bagi kemajuan suatu bangsa. Di Indonesia, keberagaman budaya dan kondisi geografis menuntut pendekatan pendidikan yang responsif terhadap konteks lokal.
Salah satu strategi yang efektif dalam mencapai tujuan tersebut adalah melalui pendidikan muatan lokal (mulok).
Catatan pendek ini akan membahas peran pendidikan mulok dalam memberdayakan masyarakat pedesaan, misalnya dalam wilayah Nusa Tenggara Timur dengan fokus pada pelestarian budaya dan peningkatan kualitas hidup.
Masyarakat pedesaan di NTT, misalnya dalam kekhususan masyarakat Kabupaten Kupang, memiliki kekayaan budaya yang unik dan perlu dilestarikan.
Pendidikan mulok berperan krusial dalam menanamkan nilai-nilai budaya lokal kepada generasi muda.
Melalui mata pelajaran mulok yang dirancang secara khusus, seperti seni tenun ikat, musik tradisional Sasando, atau bahasa daerah seperti bahasa Meto’ dengan versinya masing-masing, bahasa Rote, bahasa Helong (Darat dan Semau) , siswa dapat memahami dan menghargai warisan budaya leluhur mereka.
Sebagai contoh konkret, sekolah di pedesaan dan pedalaman dapat memasukkan pelatihan tenun ikat motif khas daerah tersebut ke dalam kurikulum mulok. Siswa tidak hanya belajar teknik menenun, tetapi juga sejarah dan makna di balik setiap motif, sehingga mereka dapat melestarikan dan bahkan mengembangkan seni tenun ikat tersebut.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp KupangBerita.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.










