Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Buntut dari Insiden Kotabes Ikatan Keluarga Kepulauan Alor Angkat Bicara

Avatar photo
Foto. Penasehat Hukum, Pengurus IKKA Yohanes Peni, S.H.
Foto. Penasehat Hukum, Pengurus IKKA Yohanes Peni, S.H.

Kupangberita.com —-Menyikapi peristiwa saling serang di Kotabes Amarasi, Kabupaten Kupang pada hari Selasa, 28 Juni 2022 yang berujung pada penangkapan 26 orang muda Alor sebagai terlapor pada hari, Kamis, tanggal 29 Juni 2022 oleh aparat Kepolisian Resort Kupang, saya selaku Penasehat Hukum sekaligus atas nama Ikatan Keluarga Kepulauan Alor (IKKA) menyampaikan pernyataan sebagai berikut:

Bahwa kami menyebut peristiwa Kotabes Amarasi merupakan peristiwa saling menyerang antara sekelompok warga sekitar pesta dengan sekelompok orang Alor.

Dikatakan demikian karena kejadian ini dimulai dari:
(1). Penyerangan (pelemparan batu, cai maki dan pengeroyokan) oleh sekelompok warga sekitar terhadap sekelompok orang Alor (dari Alor dan Kupang) yang sedang menghadiri pesta pernikahan Pendeta Maria Goreti Labeul S.Th, pendeta GMIT Efrata Bagalbui Klasis Alor Barat Daya Kabupaten Alor. Kejadian ini terjadi sekitar Pkl. 00.00 s.d 05.00 WITA.

(2). Penyerangan balik sekelompok anak muda Alor dari Oesapa yang pergi ke Tempat Kejadian Perkara (TKP) pada hari Kamis, 30 Juni 2022 Pkl. 06.00 WITA. Mereka ke sana dengan maksud membantu orang tua mereka yang dalam keadaan tertekan karena kejadian tersebut untuk dibawa pulang ke Kupang.

Kami memang menyesalkan bahwa niat baik mereka ini dinodai dengan mereka membawa pula benda-benda tajam walaupun itu disertai alasan untuk jaga diri.

Disayangkan lagi mereka melakukan tindakan penyerangan terhadap salah satu oknum warga bernama Januardi Y Rassi, alias Jun yang diduga kuat sebagai dalang penyerangan para orang tua Alor di acara pesta tersebut.

Bahwa kami menyayangkan dan mengutuk peristiwa saling serang antara oknum warga sekitar pesta pernikahan dengan sekelompok orang Alor sebagaimana diuraikan di atas.

Kami IKKA mengakui bahwa perbuatan 26 anak muda Alor adalah salah karena merupakan bentuk tindakan melawan hukum yang merugikan orang lain dan diri sendiri.

Oleh karena itu, tindakan aparat Kepolisian Resort Kupang dalam mengamankan dan memroses hukum para pelaku merupakan hal yang patut diapresiasi dan didukung untuk memberikan efek jerah.

Namun kami juga meminta agar proses hukum ini dilakukan secara berkeadilan. Artinya tidak hanya dilakukan terhadap 26 anak muda Alor tetapi juga terhadap oknum masyarakat setempat yang diduga melakukan pengeroyokan, caci maki, dan pelemparan batu terhadap orang tua Alor (laporan polisi sudah dibuat di Polsek Amarasi).

Kalau pun secara kasat mata mungkin tidak serta merta ditetapkan pelaku, tetapi melalui keterangan saksi menjadi dasar penetapan dan penangkapan terhadap oknum-oknum dimaksud. Dan ini adalah ujian profesionalisme aparat kepolisian dalam mengungkap oknum pemantik dibalik peristiwa ini. Dengan demikian penegakkan hukum ini tidak bersifat berat sebelah dan memberikan rasa keadilan bagi semua.

Bahwa dalam proses hukum ini, kami meminta penyidik untuk tidak hanya fokus melihat bentuk, waktu dan lokus tindak pidana yang dilakukan 26 orang ini, tetapi harusnya masalah ini dilihat secara komprehensif dan holistik, termasuk terkait motif dan latar belakang mereka melakukan tindakan tersebut. Bahwa kejadian ini terjadi karena ada pemicu sebelumnya.

Mereka terganggu perasaan dan tersulut emosi karena orang tua dan kakak-kakak mereka dilempar, dicaci maki, bahkan ada yang dikeroyok di kampung orang dan terancam tidak bisa pulang ke Kupang.

Kami juga meminta para penyidik dalam melaksanakan tugas penyidikan mengedepankan prinsip-prinsip persuasif dan menghindari bentuk-bentuk kekerasan verbal maupun fisik.


Powered By NusaCloudHost